“ZAHRA”
“assalamualaikum
neng Zahra, neng Zahra dipanggil ummi” sapa lembut santri yang menghampiri
kamarku. Dengan tersenyum aku menjawab sapaan santri itu “ waalaikum salam mbk,
mksih ya Zahra akan kesana” tanpa basa basi aku berjalan menuju kediaman ummi
Yang disebut ndalem. Kata ndalem digunakan untuk menunjukkan rumah pengasuh
pesantren atau orang-orang priyai dijepara. Saat di depan aku melihat mobil
honda jazz warna merah maroon baru saja
keluar. Entah ada apa di pikiranku, rasa-rasanya aku mengenal orang yang berada
di dalam mobil itu. Aku diam memandangi mobil itu hingga tak nampak di
pandanganku. “Zahra, Zahra” panggil ummi kepadaku menandakan aku segera dipersilahkan
masuk kedalam rumahnya. Dengan rasa hormat aku berjalan dengan menggunakan dengkul
dari muka pintu hingga dihadapan ummi. Ini merupakan tradisi para santri untuk
menghormati para guru-gurunya terutama abah yai dan ummi. Dengan menunduk aku
duduk kira-kira jarak aku dan ummi, abah sekitar tiga meter. “ tadi ada bapakmu
di sini ra, tapi dia buru-buru, jadi tidak bisa menemui kamu” ucap Ummi kepadaku sambil memberikan sekotak
besar kiriman bulanan dari bapak untukku. Dengan menunduk aku ulurkan
tanganku menerima paketan dari bapak.
Tak banyak yang dibicarakan ummi dan abah selain memberikan paketan bapak. Aku pun
minta ijin pamit kembali ke kamarku.
Sesampainya
dikamar ku taruh kotak itu di sebelah lemariku tak kubuka. Ada sedikit rasa
kecewa dengan bapakku. Dia tak punya banyak waktu untuk menemuiku di pesantren,
bahkan untuk bertatap muka kepadaku untuk beberapa menit. Aku sangat
merindukannya tapi Bapak seorang pengusaha mebel yang sibuk mungkin itu alasan Bapak
belum sempat menemuiku. Jika boleh jujur aku merindukannya.
Aku ingat bapak
dulu punya waktu yang banyak untukku sebelum ibuku meninggal. Waktu itu
sepulang dari sekolah aku dijemput oleh pamanku. Sesampai dirumah aku melihat
begitu banyak orang dengan dua bendera warna kuning di depan rumah. Aku yang
waktu itu berumur delapan tahun heran tak karuan. Sesampai di dalam aku melihat
ibuku sudah terbaring memakai baju warna putih, pucat dan terlelap. Dengan rasa
penasaran bercampur takut aku menghampirinya meski sepatu dan ranselku masih
kupakai. Kududuk disebelahnya sambil memanggilnya. ‘bu, Zahra baru pulang kok
ibuk dah tidur? Kenapa ibu pakai baju seperti ini? Kenapa badan ibu dingin?
Bngun buk, ada banyak tamu apa ibu gak buatin teh buat para tamu? Bangun buk”
panggilku kepaada ibuku. Sambil menangis aku terus meanggilnya, tetapi Ibu
masih tak bangun juga. Semua orang ikut menangis melihat tingkahku. Bapak yang
mengetahui itu datang dan memelukku sambil berbicara “ ibu orang baik, ibu mau
ngaji kerumah Azza wa Jalla kak”. Pergi
ngaji merupakan satu alasan untuk menenangkan anak kecil yang sedih atas kehilangan
orang tua atau saudara di desaku. Tetapi aku paham maksut bapak sebenarnya berbicara seperti itu.
Setelah
kepergian ibu beberapa minggu, ayah dianjurkan oleh saudara dan kakek nenek
untuk menikah lagi. Dan akhirnya bapak menikah dengan adik ibuku, tante Ayu namanya.
Dia cantik sama seperti ibu tapi cantiknya berbeda entah apa yang beda tapi aku
tidak suka. Saat tante Ayu sudah resmi menikah dengan bapak. Aku tetap saja
saja merasa sendiri. Saat kenaikan kelas tiga SD di malam hari di rumah aku
mendengar ibu baruku mengobrol dengan bapak. “mas, kalo Zahra kita masukin ke
pondok pesantren Darul Istiqomah gmn?. “Tapi dek, Zahra masih delapan tahun
jangan dulu. Nunggu dia masuk Madrasah Tsanawiyah (sekolah setingkat SMP)”.
Tapi mas, pendidikan agama jauh lebih baik kalo kita berikan pada Zahra di usianya
sekarang. Mas juga dulu pernah ngaji
sama beliau. Aku tau mas lebih tau abah
seperti apa, yakinlah padaku mas.” Jawab ibu memaksa. Tapi bapak hanya diam,
tak sadar aku sudaah tertidur hingga pagi.
Tante Ayu pagi
ini memanggilku padahal semenjak dia menikah dengan bapak. Kami tidak pernah
berbicara, menyapa saja tidak. “Zahra cepat mandi, pakai jilbabmu dan kita
berangkat” ucap ibu baruku. “Memang kita mau kemana tante?” tanyaku. “Kita ke
rumah guru ngajinya bapakmu abah Rahman Sulaiman jawab singkat tante ayu
kepadaku. Segera aku bersiap mengikuti perintah, tapi anehnya banyak sekali
barang bawaan yang di bawa Bapak waktu itu. Aku sebenarnya merasa aneh. Tapi
mungkin itu hadiah untuk guru ngajinya bapak, pikirku.
Didalam mobil
tidak ada percakapan diantara kami, semenjak aku kehilangan ibuku, dan bapak
menikah lagi aku menjadi pendiam dan tak banyak bicara termasuk pada bapak.
Sekitar sepuluh menit akhirnya kami sampai di rumah abah Rahman. Jarak rumah
kami hanya sekitar enam ratus meter jauhnya. Rumah abah Rahman berada di dalam
kawasan pondok pesantern Darul Istiqomah banjar agung, bangsri jepara. Sebuah
pesantren yang cukup terkenal di jepara,
bahkan abah Rahman merupakan sosok kyai yang luar biasa terkenalnya sekabupaten
jepara.Setelah bertemu dan berbincang banyak
dengan abah, bapak berpamitan tapi ketika aku ikut masuk ke mobil. Bapak
memelukku sambil menangis bapak berkata “kak Zahra di sini ya, biar bapak dan
ibu pulang, jangan nakal, kakak harus nurut kata abah sama ummi Rahman ya,
bapak bakal datang tiap tanggal lima belas”. Tapi aku hanya diam menunduk tak
mengerti kenapa bapak begitu rela dan tega membiarkan aku di sini dengan
orang-orang yang tak kukenal. Aku mundurkan langkahku tanpa berbicara. Saat
mobil yang di kendarai bapak melaju, air mataku menetes. Karena aku hanya mampu
memandangi mobil yang di kendarai bapak dan ibu pergi.
Setiap tanggal
lima belas aku menunggu kedatangan bapak tapi yang ada hanya kiriman keperluan
santri dari bapak untukku. Tidak pernah sekalipun aku berjumpa dengan bapak
seperti yang aku inginkan. Bahkan hari rayapun aku berada di pesantren bersama
keluarga abah Rahman. Pernah sekali aku jalan kaki untuk pulang kerumah, tapi
yang ada rumahku kosong kata para tetangga bapak sudah pindah ke jepara kota. Ingin
aku menangis karena kecewa, kenapa bapak tidak bercerita kepadaku, padahal jarak
rumah dan pesantren tidak terlalu jauh. Bahkan kalau berjalan kaki hanya perlu
waktu tiga puluh menit. Dalam hati aku bertanya kenapa bapak seperti ini
padaku?. Moment pahit ini begitu lengket di ingatanku.
Aku masih diam
di kamar bersama para santri lain yang sibuk menghapal al-quran. “neng Zahra kok
melamun? Tuh dibuka paketan kirimanya siapa tau ada jajanny kan lumayan bisa
kita makan rame-rame hehe” ucap salah seorang santri kepadaku. ‘Eh, iya ini tak
bukanya, ambil jajan yang kalian mau gih” jawabku kepada mereka. Para santripun
sumringah, saling memandang menghentikan hafalan mereka, dan mulai melahap
makanan dari bapak. Di dalam paketan itu berisi makanan, buku-buku, beberapa
potong baju, dan amplop berisi uang dari bapak. Untuk masalah materi mungkin
aku tak kekurangan tapi perhatian dari orang tuaku tak pernah aku dapatkan. Bahkan
masalah administrasi sekolah dan di pesantren, abah yang mengurus dan
melaporkan ke bapak. Tapi sudahlah setidaknya dia masih peduli padaku..
Aku mungkin
memang sangat bahagia di sini punya banyak teman santri yang baik, dekat dengan
keluarga abah Rahman dan satu putra abbah yang bernama Zainuddin. Laki-laki
yang di gemari banyak santri di sini,
salah seorang mahasiswa AL-Azhar yang pintar dan tampan. Dari surat yang
dikirimnya kemarin untukku dia berencana pulang minggu depan. Bertepatan dengan
pengambilan kelulusanku di bangku Madrasah Aliyah (sekolah setingkat SMA). Aku
dan Zainuddin dan keluarga abah begitu dekat. Itulah sebabnya Zainuddin selalu
mengirimku surat. Setidaknya sebulan tiga kali.
Seminggu sudah
saat surat dari Zainuddin sampai d tanganku. Hari ini aku siap berangkat
mengambil secarik kertas dari sekolah yang memutuskan aku lulus atau tidak.
Tapi pagi ini aku tidak melihat Zainuddin atau mendengar kabar darinya sudah
sampai d pesantren atau belum. Aku menjadi was-was karena tidak ada yang hadir
mewakili aku nanti. Kuputuskan hari ini menemui abah untuk menjadi wali murid
di acara kelulusan aku inn. Andai saja bapak bisa ada waktu untuk hadir,
mungkin aku tak terlalu mengharap Zainuddin datang.
Sesampainya aku
di depan ndalem tiba-tiba pintu terbuka dan Zainuddin didepanku. Berdetak
kencang jantungku, kaget bingung, juga senang yang aku rasakan. Aku diam
melongo memandang wajah Zainudin yang berwarna sawo matang, kami saling
memandang untuk beberapa detik. “ukhti, kok disini? Katanya hari ini mau ambil
pengumuman kelulusan sama aku?” potong Zainuddin ditengah keterkejutanku. Tapi
aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Kami berjalan
menuju MA. Matholiul Ulum sekolahku. Sesampai di sekolah semua mata gadis-gadis
tertuju padanya. Bagaimana tidak, Zainuddin memang memiliki wajah yang rupawan
sehingga banyak gadis sebayaku tertarik dengannya. Agak sedikit cemburu ketika
teman-temanku menanyakan Zainuddin secara detil kepadaku. Tapi apa salahnya sie
mereka bertanya begitu padaku? Jika aku berada di posisi mereka aku pasti ikut
bertanya tentang Zainuddin.
Setelah acara
kelulusan usai, kami langsung kembali ke pesantren. Saat tiba di pembatas
wilayah asrama putri dan ndalem kami saling memandang dan tersenyum sebelum berpisah.
Setibanya di kamar aku tersenyum bukan karena hasil ujian sekolah aku mendapat
nilai terbaik, tapi karena Zainuddin mau meluangkan waktu untuk hadir di acara
sepenting ini buatku. Semua memberikan selamat kepadaku. Ditengah kebahagiaanku
siang ini. tiba-tiba seorang santri putra datang memanggilku dari halaman
paling depan asrama putri “neng, neng Zahra abah sama ummi pengen ketemu, di tunggu di ndalem”
sepontan aku langsung menemui santri tersebut dan berkata “ injih kang, makasih
saya kesana nanti”. Santri putra itupun tersenyum dan pergi.
Kutemui abah di
ndalem dan abah berkata padaku “ra, selamat atas kelulusanmu, kata Zainuddin
kamu masuk lulusan terbaik tahun ini”, aku tersenyum menganggukkan kepala di
hadapan abah. Tiba-tiba abah menyodorkan handphone nokia hitam dengan tipe
jadul seribu seratus kepadaku. Aku tak mengerti maksutnya abah. “ini handphon
dari bapakmu atas kelulusanmu hari ini, di dalam handphone ini ada nomer telpon
abah dan bapakmu. Setelah ijazahmu sudah di ambil, abah izinkan kamu bertemu
dengan bapakmu di jepara”. kata abah
mencoba menjelaskan.
Aku meneteskan
air mata aku merasa abah seolah-olah ingin mengusirku, kenapa abah menyuruhku
pergi tanpa persyaratan santri yang lain? Bukankah jika santri pulang harus di
jemput walinya? Tapi kenapa aku di percaya pulang sendiri? Banyak sekali
pertanyaan dihati dan pikiranku saat abah berkata begitu. Ditengah keherananku
abah berbicara “inget ra, bagaimanapun ayu itu ibu kamu meski dia ibu tirimu.
Hormati ibu dan adik-adikmu seperti hormatmu pada aku, ummi dan Zainuddin.”.
Aku hanya mampu menunduk tak berani berkomentar atau berjanji kepada abah.
Singkat cerita aku keluar dari ndalem dan melihat brosur sekolah tinggi Universitas
Islam Nahdlatul Ulama jepara atau UNISNU dimading pesantren. Aku baca dan
kupahami isinya. Disaat itu kuputuskan mendaftarkan diri ke perguruan tinggi
ini.
Sehari sebelum
aku pergi aku bertemu Zainuddin di sekolah lantai dua, kami memandang pemandangan
di pagar pembatas dilantai dua. Pagi ini kami berbincang banyak mengenai
sekolah tinggi. Bagaimana model
pendidikannya hingga pribadi mahasiswa. Tidak hanya itu, bahkan dia memberiku
banyak sekali nasihat. Dia pribadi yang hebat, daya ingatnya sangat luar biasa,
baik, cerdas, sopan, itulah yang membuat aku kagum padanya. Di hari itu Zainuddin
menyarankaku masuk fakultas dakwah. Karena menuruntnya fakultas dakwah memiliki
banyak potensi untuk di berikan kepada mahasiswanya. Menurunya aku akan lebih
baik masuk fakultas dakwah. Zainuddin tau kalau aku ini ingin sekali menjadi
jurnalis, sehingga dia menyarankan aku masuk fakultas dakwah prodi Komunikasi
Penyiaran Islam.
Keesokan
harinya aku bersiap pergi menuju rumah bapak yang berada di jepara kota. Aku
berpamitan dengan abah, ummi, Zainudin dan semua santri. Sempat aku meneteskan
air mata tapi ini merupakan hari yang penting setelah sepuluh tahun tak bertemu
bapak hari ini aku di ijinkan tuhan menemui bapak. Dengan naik bis jurusan pati
jepara aku awali bis pertama menuju rumah bapak. Sebelum aku naik bis aku
sempatkan menelpon bapak, tapi yang berbicara ibuku, “assalamualaikum” sapaku
di telpon, “waalaikum salam” jawab ibu singkat” dengan takut dan rasa gugup aku
memberi tau ibu bahwa hari ini aku mau pulang ke rumahnya. Tetapi ibu hanya
menjawab “iya”. Lalu ada bunyi “tut tut tut” ibuku ternyata memutus telponnya.
Aku memasukkan kembali handphonku ke ransel dan menunggu bis, beberapa menit
kemudian bis pati jepara berhenti di depanku, aku naik dengan membawa koper
besar dan ransel. Sekitar empat puluh lima menit aku naik bis. Dari jendela aku melihat bapak
berada di depan rumah makan Maribu tepat di depan taman kerang desa pengkol
jepara. Bapak sedang berbincang dengan orang asing perawakannya tinggi besar,
putih, dan berambut pirang agak putih, mungki orang luar negri. Tanpa pikirr
panjang aku meminta pak supir berhenti. Aku turun dan lari menuju bapak rasanya
sangat dekat aku dngan tubuhnya. Kupeluk badan bapak dari belakang sambil
menangis aku berkata pada bapak “ bapak, ini kak Zahra, Zahra kangen bapak”
hening seketika itu bahkan orang asing yang bersama bapak ikut diam dan
memandang kemesraan kami.
Bapak memegang
tanganku yang melingkar diperutnya, melepas tanganku dan berbalik. Memandangiku
yang sedang menangis. Bapak tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “kak Zahra
sudah besar dan cantik, bapak juga kangen sama Zahra” ucap Bapak kepadaku. Bapak
memelukku di hadapan umum. Memperkenalkan aku dengan orang asing yg bersamanya.
Ternyataa lelaki itu rekan bisnis mebel bapak dari inggris. Aku diajaknya
pulang kerumah dengan mobil honda jazz warna merah maroon yang aku lihat sesaat
sebelum bertemu abah beberapa minggu lalu.
Di rumah aku
bertemu tante Ayu ibu tiriku, aku tersenyum tapi ibuku tidak membalas
senyumanku. Nampak begitu tak sukanya dia atas kehadiranku di rumah bapak.
Sesampainya di dalam rumah bapak begitu mengistimewakan aku kita bercerita
banyak tanpa kehadiran ibu tiriku. Aku dikenalkan adik- adik tiriku yang
berjumlah tiga orang ada ahmad yang berumur sembilan tahun, ada wulan yang
berumur tujuh tahun dan adikku yang paling kecil yang berumur enam bulan haidar
nama adikku yang paling kecil. Bahagia rasanya bisa hadir di keluargaku yang
sudah lama hilang. Sepuluh tahun yang lalu terbayar sehari dengan kebersamaan
bapak, aku dan adik-adikku.
Adzan maghrib
berkumandang di hari pertamaku dijepara, aku berwudlu dan mengenakan mukena
terbaikku sore ini. Kuberjalan menuju ruang kecil di dalam rumah yang dipakai
untuk solat berjamaah. Nampak ada bapak menungguku dan tersenyum. Bapakku
menjadi imam solatku sore ini. Ingin aku
menangis saat bapak membacakan iqomat menandakan bahwa bapak, aku, ibu dan
adik-adikku siap melakukan jamaah. Setelah selesai solat kucium tangan bapak
dan ibu, begitu juga yang dilakukan adik-adiku. Selesai membaca doa sesuai
solat bapak beranjak pergi tapi aku memegangi sarungnya “bapak, Zahra udah
hafal tiga puluh jus al-quran, Zahra ingin di semak (mendengarkan dan
mengoreksi bacaan al-quran yg dibaca) sama bapak boleh?” pintaku kepada bapak.
Bapak tersenyum dan kembali duduk. Aku memulai dengan membaca surat al-fatihah
sebagai pembuka ngajiku sore ini bersama bapak sebelum lanjut surat al-baqoroh hingga isyak.
Sehabis solat
isyak aku berbincang dengan bapak di kamrku, aku menyodorkan brosur pendaftaran
UNISNU yang aku ambil dari mading pesantren abah afif kemarin. Ku utarakan
niatku ingin masuk fakultas dakwah di Unisnu jepara. Tapi bapak mencoba
meyakinkan diriku dengan memberi alternative perguruan tinggi di semarang,
kudus, jogja dan jakarta. Menurut bapak semua perguruan tinggi di sana jauh
lebih baik dari Unisnu. Tapi dengan halus aku memberi pengertian kepada bapak,
sukses bukan dari mana orang itu bersekolah tapi dari keinginan diri orang itu
sendiri, sekolah hanyalah penunjang dan formalitas untuk mendapatkan ijazah
semata. Tetapi aku meyakinkan bapak kalau aku akan sukses di UNISNU karena aku
ingin sukses atas diriku bukan karena sekolahku. Aku juga memberikan alasanku
kenapa aku ingin masuk fakultas dakwah yang dianggap sebelah mata semua orang
termasuk bapakku. Meski awalnya bapak tidak terlalu yakin atas pilihanku,
akhirnya bapak merestui dan mau mengantar aku mendaftar keesokan paginya.
Perbincangan
semalam membuat Aku tertidur dipelukan bapak malam ini, seperti anak kecil yang
selalu ingin dimanja bapaknya. Menjelang pagi aku bersiap ditemani bapak untuk
mendaftar di kampus Unisnu jepara. Kampus unisnu dekat dari rumah bapak. ya,
jaraknya sama seperti rumahku yang lama dengan pesantren milik abah. Dengan cat
has warna hijau . Meski tak sebesar kampus-kampus diluar kota tapi aku merasa
masa depanku berada di sini. Seusai mendaftar aku dan bapak pulang. Sesampai di
rumah ada abah, ummi, Zainuddin dan ibu berbincang-bincang di ruang tamu.
Melihat mereka aku tersenyum kuhampiri ummi dan ibu dan kucium tangan mereka
sebagai tanda hormatku.
Aku berjalan ke
kamar tak ingin mengganggu, aku berjalan sambil tersenyum memandang Zainuddin yang
begitu tampan dengan baju koko, sarung dan peci khas anak santri. Sungguh dia
begitu rupawan menurutku. Saat mereka hendak pulang, bapak memanggilku. Aku
datang kedepan ternyata sore ini Zainuddin berpamitan untuk kembali ke Kairo
untuk melanjutkan studynya. Saat bapak dan ibu mengantar abah dan ummi kedepan.
Zainuddin berjalan pelan di belakang bersamaku “ukhty sore ini aku akan kembali
ke kairo. Akhi kesini ingin bertemu ukhti dan berpamitan. Nanti seperti biasa
ya seminggu sekali kita berkirim surat” dengan tersenyum Zainuddin berpesan
seperti itu. Aku tersenyum dan mengangguk. Kami berpisah hari ini, terpisah
jarak yang begitu jauh. Tapi tak apalah demi masa depan kami relakan semua ini.
Setelah
kepergian Zainuddin ke kairo ku mulai hidupku yang baru di sebuah perguruan
tinggi terbesar di jepara yakni Unisnu. Ku awali dengan pertemuan para
mahasiswa baru di fakultas dakwah, OSPEK dan beberapa kegiatan yang dilakukan
mahasiswa pada umumnya. Semenjak menjadi mahasiswa fakultas dakwah aku dan
mahasiswa lain di ajarkan menjadi mahasiswa yang cakap berkomunikasi dengan
cara santun. Menjadi jurnalis atas dasar dakwah yang selalu mengajak pada hal
yang baik. Menjadi bagian dari media massa baik cetak atau elektronik yang
berbasis keislaman dengan tujuan berdakwah. Selain megikuti kuliah, banyak
organisasi di bidang komunikasi seperti pers, kemudian radio kampus, teater,
film, Semua berada di fakultas dakwah.
Banyak hal baru yang kutemukan disini selain
dari pendidikannya aku juga menjadi tak canggung berbincang dengan ibu tiriku,
meski ibuku belum begitu mau menerima tapi aku mencoba mengambil hatinya. Meski
dia hanya ibu tiri, dia istri darI bapakku berarti dia juga ibuku. Hubunganku
dengan bapak juga adik-adikku berjalan sangat harmonis seperti yang selalu aku
bayangkan waktu di pesantren. aku merasa menjadi sosok yang sempurna, memiliki
bapak yang sukses di dunia mebel, punya ibu yang cantik dan sedikit cuek,
adik-adik yang lucu dan ramah. Selalu kuucapkan terima kasih pada tuhan atas
kebahagiaan yang diberikan-Nya unttukku.
Sebenarnya dulu
uaku dan ibuku begit tidak baik. Mungkin karena status diriku yang hanya anak
tiri. Ibuku tak pernah berbicara padaku dari setelah menikah dan aku kembali
dari pesantren. Aku juga menginginkan dipeluk tubuhnya yang indah, di kecup di
kening seperti adik-adikku yang lain. Aku selalu berusaha bangun lebih pagi
dari ibu agar aku bs membantu ibu memasak, bersih-bersih rumah dan sebagainya.
Tetapi ibu tetap saja diam, menegur saja tidak. Suatu ketika ibu hamil lagi dan
saat janin di perutnya berumur empat bulan ibu terjatuh dari tangga saat
mempersiapkan acara mapati. Mapati di jepara merupakan tradisi pemberian doa
untuk janin yang berumur empat bulan. Kejadian itu membuat ibu kehilangan calon
adikku. Akibat kejadian itu, ibu harus dirawat d rumah sakit. Selama ibu di
rumah sakit aku menemaninya. Aku mencoba bercerita banyak tapi ibu hanya tersenyum
sbntar setiap kali aku bercerita. Tiga hari di rumah sakit akhirnya ibu
diijinkan pulang. Setiba di rumah ibu memanggil aku yang saat itu sedang
membereskan tempat tidurnya. “ ra, makasih ya sudah mau mengurus ibu, mau kah Zahra
tetap disini sampai sore bercerita lagi seperti saat ibu di rumah sakit
kemarin?” subhanallah betapa senangnya hatiku saat ibu berkata begiitu, aku
tersenyum dan mengangguk. Ibu kemudian memelukku sangat hangat. Sama seperti
apa yang aku inginkan. Setelah itu hubungan kami begitu baik dan dekat. Aku
bersyukur pada allah dan slalu mendoakannya layaknya ibu kandungku sendiri.
Aku dan Zainuddin
masih berhubungan sangat baik, Zainuddin sudah lulus dari Al-Azhar, sekarang
dia melanjutkan perjuangan abah mengelola pesantrennya. Meski begitu Zainuddin juga
sebagai penulis konsultan agama disalah satu koran di jepara, guru di madrasah,
Zainuddin juga menjadi ustad di Banjar Agung karena status dia sebagai putra
ulama dan lulusan Al-Azhar. Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Dan besok
lusa aku akan diwisuda, tak sabar menunggu acara itu. Akhirnya acara itu tiba
aku lulus dengan nilai terbaik. Dengan kelulusan ini namaku berganti yakni
menjadi Alvi Zahra Al- Alvia S.Kom.i. Pelukan bangga dan kecupan bahagia
diberikan bapak dan ibuku untukku. Disaat itulah aku merasa sudah membuat ibuku
bangga. Tidak hanya itu setelah lulus banyak tawaran dari beberapa
perusahaan untukku seperti menjadi
humas, reporter di media televisi, wartawan, guru, penyiar radio dan anggota di
kementrian agama di jepara. Tapi pilihanku aku menjadi reporter di televisi
bagiku saat itu menjadi reporter merupakan sebuah profesi yang luar biasa
menyebarkan informasi ke jutaan orang di indonesia bahkan luar negri tentulah
berbasis dakwah. Tidak memprovokasi tapi lebih mengajak kepada hal yang baik.
Kebahagiaanku
tidak berhenti di situ, Zainuddin melamarku. Sungguh hal yang tidak kuduga bisa
dilamar orang hebat seperti dia. Meski awalnya ibuku tidak suka karena dia
hanya pengasuh pesantren dan penulis tapi akhirnya diterima dengan syarat aku
di ijinkan menikmati dunia kerjaku setidaknya satu sampai dua tahun. Barulah
kami boleh menikah, mendengar itu dari kamar, aku melakukan sujud syukur atas
restu itu.
Perjalan
panjang ku tempuh dari jepara ke jakarta untuk melakukan tugasku sebagai
reporter lulusan Unisnu. Kujalani dan kunikmati pekerjaanku, banyak yang
mengenalku karena wajahku sering muncul di tivi. Seain itu aku mengenal banyak
orang dai beberapa daerah, pejabat juga artis. Aku sukses menjalankan misiku
sebagai da’i di media tivi. Dua tahun aku dijakarta, akhirnya aku memutuskan
pulang bertemu keluargaku dan menepati janji keluargaku untuk menikahkan aku
dengan Zainuddin. Saat aku pulaang semua persiapan pernikahan sudah di rancang
dan di konsep ibuku. Dalam proses persiapan pernikahan, aku menyepatkan datang
ke pemakaman ibuku yang ada di Banjar Agung bersama bapak dan ibu untuk meminta
ijjin sekaligus mendoakannya. Sekarang aku merasa ibuku tidak pernah mati.
Karena tante ayu sekarang mampu menjadi ibu yang selama ini mengaji di rumah Azza
wa Jalla. Setelah semua persiapan pernikahan sudah siap dan tanggal pernikahan
sudah jatuh tempo akhirnya berlangsung juga ijab qobul antara Zainuddin, bapak, abah dan
penghulu. Jantungku berdegup kencang takut terjadi kegagalan. Dan alhamdulilah
semua berjalan lancar. Aku dan Zainuddinpun resmi menjadi sepasang suami istri.
air mata ini menetes di acara pernikahan. Karena tuhanku mengijinkan aku
menjadi tulang rusuk dari Zainuddin, memiliki ibu tiri yang mulai menerimaku. Adik-adik
yang baik. Dan bapak yang akhirnya bisa hadir kembali di hidupku setelah
sepuluh tahun tak beertemu. Sungguh inilah kesempurnaan yang aku dapatkan dari
tuhanku ALLAH.
NAMA :
ALFIATURROHMAH (mahasiswa fakultas DAKWAH. UNISNU Jepara
ALAMAT : Banjar
Agung RT 05/02 Bangsri-Jepara
NO.REC :
589901015031531 .BANK BRI. AN; ALFIATURROHMAH
NO.TLP :
081575991413
No comments:
Post a Comment