Monday, December 1, 2014

cerpen

“ZAHRA”

“assalamualaikum neng Zahra, neng Zahra dipanggil ummi” sapa lembut santri yang menghampiri kamarku. Dengan tersenyum aku menjawab sapaan santri itu “ waalaikum salam mbk, mksih ya Zahra akan kesana” tanpa basa basi aku berjalan menuju kediaman ummi Yang disebut ndalem. Kata ndalem digunakan untuk menunjukkan rumah pengasuh pesantren atau orang-orang priyai dijepara. Saat di depan aku melihat mobil honda jazz warna merah maroon  baru saja keluar. Entah ada apa di pikiranku, rasa-rasanya aku mengenal orang yang berada di dalam mobil itu. Aku diam memandangi mobil itu hingga tak nampak di pandanganku. “Zahra, Zahra” panggil ummi kepadaku menandakan aku segera dipersilahkan masuk kedalam rumahnya. Dengan rasa hormat aku berjalan dengan menggunakan dengkul dari muka pintu hingga dihadapan ummi. Ini merupakan tradisi para santri untuk menghormati para guru-gurunya terutama abah yai dan ummi. Dengan menunduk aku duduk kira-kira jarak aku dan ummi, abah sekitar tiga meter. “ tadi ada bapakmu di sini ra, tapi dia buru-buru, jadi tidak bisa menemui kamu”  ucap Ummi kepadaku sambil memberikan sekotak besar kiriman bulanan dari bapak untukku. Dengan menunduk aku ulurkan tanganku  menerima paketan dari bapak. Tak banyak yang dibicarakan ummi dan abah selain memberikan paketan bapak. Aku pun minta ijin pamit kembali ke kamarku.
Sesampainya dikamar ku taruh kotak itu di sebelah lemariku tak kubuka. Ada sedikit rasa kecewa dengan bapakku. Dia tak punya banyak waktu untuk menemuiku di pesantren, bahkan untuk bertatap muka kepadaku untuk beberapa menit. Aku sangat merindukannya tapi Bapak seorang pengusaha mebel yang sibuk mungkin itu alasan Bapak belum sempat menemuiku. Jika boleh jujur aku merindukannya.
Aku ingat bapak dulu punya waktu yang banyak untukku sebelum ibuku meninggal. Waktu itu sepulang dari sekolah aku dijemput oleh pamanku. Sesampai dirumah aku melihat begitu banyak orang dengan dua bendera warna kuning di depan rumah. Aku yang waktu itu berumur delapan tahun heran tak karuan. Sesampai di dalam aku melihat ibuku sudah terbaring memakai baju warna putih, pucat dan terlelap. Dengan rasa penasaran bercampur takut aku menghampirinya meski sepatu dan ranselku masih kupakai. Kududuk disebelahnya sambil memanggilnya. ‘bu, Zahra baru pulang kok ibuk dah tidur? Kenapa ibu pakai baju seperti ini? Kenapa badan ibu dingin? Bngun buk, ada banyak tamu apa ibu gak buatin teh buat para tamu? Bangun buk” panggilku kepaada ibuku. Sambil menangis aku terus meanggilnya, tetapi Ibu masih tak bangun juga. Semua orang ikut menangis melihat tingkahku. Bapak yang mengetahui itu datang dan memelukku sambil berbicara “ ibu orang baik, ibu mau ngaji kerumah Azza wa Jalla kak”.  Pergi ngaji merupakan satu alasan untuk menenangkan anak kecil yang sedih atas kehilangan orang tua atau saudara di desaku. Tetapi aku paham maksut bapak sebenarnya  berbicara seperti itu.
Setelah kepergian ibu beberapa minggu, ayah dianjurkan oleh saudara dan kakek nenek untuk menikah lagi. Dan akhirnya bapak menikah dengan adik ibuku, tante Ayu namanya. Dia cantik sama seperti ibu tapi cantiknya berbeda entah apa yang beda tapi aku tidak suka. Saat tante Ayu sudah resmi menikah dengan bapak. Aku tetap saja saja merasa sendiri. Saat kenaikan kelas tiga SD di malam hari di rumah aku mendengar ibu baruku mengobrol dengan bapak. “mas, kalo Zahra kita masukin ke pondok pesantren Darul Istiqomah gmn?. “Tapi dek, Zahra masih delapan tahun jangan dulu. Nunggu dia masuk Madrasah Tsanawiyah (sekolah setingkat SMP)”. Tapi mas, pendidikan agama jauh lebih baik kalo kita berikan pada Zahra di usianya sekarang. Mas juga dulu pernah  ngaji sama beliau. Aku tau  mas lebih tau abah seperti apa, yakinlah padaku mas.” Jawab ibu memaksa. Tapi bapak hanya diam, tak sadar aku sudaah tertidur hingga pagi.
Tante Ayu pagi ini memanggilku padahal semenjak dia menikah dengan bapak. Kami tidak pernah berbicara, menyapa saja tidak. “Zahra cepat mandi, pakai jilbabmu dan kita berangkat” ucap ibu baruku. “Memang kita mau kemana tante?” tanyaku. “Kita ke rumah guru ngajinya bapakmu abah Rahman Sulaiman jawab singkat tante ayu kepadaku. Segera aku bersiap mengikuti perintah, tapi anehnya banyak sekali barang bawaan yang di bawa Bapak waktu itu. Aku sebenarnya merasa aneh. Tapi mungkin itu hadiah untuk guru ngajinya bapak, pikirku.
Didalam mobil tidak ada percakapan diantara kami, semenjak aku kehilangan ibuku, dan bapak menikah lagi aku menjadi pendiam dan tak banyak bicara termasuk pada bapak. Sekitar sepuluh menit akhirnya kami sampai di rumah abah Rahman. Jarak rumah kami hanya sekitar enam ratus meter jauhnya. Rumah abah Rahman berada di dalam kawasan pondok pesantern Darul Istiqomah banjar agung, bangsri jepara. Sebuah pesantren yang cukup terkenal di  jepara, bahkan abah Rahman merupakan sosok kyai yang luar biasa terkenalnya sekabupaten jepara.Setelah bertemu dan berbincang banyak  dengan abah, bapak berpamitan tapi ketika aku ikut masuk ke mobil. Bapak memelukku sambil menangis bapak berkata “kak Zahra di sini ya, biar bapak dan ibu pulang, jangan nakal, kakak harus nurut kata abah sama ummi Rahman ya, bapak bakal datang tiap tanggal lima belas”. Tapi aku hanya diam menunduk tak mengerti kenapa bapak begitu rela dan tega membiarkan aku di sini dengan orang-orang yang tak kukenal. Aku mundurkan langkahku tanpa berbicara. Saat mobil yang di kendarai bapak melaju, air mataku menetes. Karena aku hanya mampu memandangi mobil yang di kendarai bapak dan ibu pergi.
Setiap tanggal lima belas aku menunggu kedatangan bapak tapi yang ada hanya kiriman keperluan santri dari bapak untukku. Tidak pernah sekalipun aku berjumpa dengan bapak seperti yang aku inginkan. Bahkan hari rayapun aku berada di pesantren bersama keluarga abah Rahman. Pernah sekali aku jalan kaki untuk pulang kerumah, tapi yang ada rumahku kosong kata para tetangga bapak sudah pindah ke jepara kota. Ingin aku menangis karena kecewa, kenapa bapak tidak bercerita kepadaku, padahal jarak rumah dan pesantren tidak terlalu jauh. Bahkan kalau berjalan kaki hanya perlu waktu tiga puluh menit. Dalam hati aku bertanya kenapa bapak seperti ini padaku?. Moment pahit ini begitu lengket di ingatanku.
Aku masih diam di kamar bersama para santri lain yang sibuk menghapal al-quran. “neng Zahra kok melamun? Tuh dibuka paketan kirimanya siapa tau ada jajanny kan lumayan bisa kita makan rame-rame hehe” ucap salah seorang santri kepadaku. ‘Eh, iya ini tak bukanya, ambil jajan yang kalian mau gih” jawabku kepada mereka. Para santripun sumringah, saling memandang menghentikan hafalan mereka, dan mulai melahap makanan dari bapak. Di dalam paketan itu berisi makanan, buku-buku, beberapa potong baju, dan amplop berisi uang dari bapak. Untuk masalah materi mungkin aku tak kekurangan tapi perhatian dari orang tuaku tak pernah aku dapatkan. Bahkan masalah administrasi sekolah dan di pesantren, abah yang mengurus dan melaporkan ke bapak. Tapi sudahlah setidaknya dia masih peduli padaku..
Aku mungkin memang sangat bahagia di sini punya banyak teman santri yang baik, dekat dengan keluarga abah Rahman dan satu putra abbah yang bernama Zainuddin. Laki-laki yang di gemari banyak santri di  sini, salah seorang mahasiswa AL-Azhar yang pintar dan tampan. Dari surat yang dikirimnya kemarin untukku dia berencana pulang minggu depan. Bertepatan dengan pengambilan kelulusanku di bangku Madrasah Aliyah (sekolah setingkat SMA). Aku dan Zainuddin dan keluarga abah begitu dekat. Itulah sebabnya Zainuddin selalu mengirimku surat. Setidaknya sebulan tiga kali.
Seminggu sudah saat surat dari Zainuddin sampai d tanganku. Hari ini aku siap berangkat mengambil secarik kertas dari sekolah yang memutuskan aku lulus atau tidak. Tapi pagi ini aku tidak melihat Zainuddin atau mendengar kabar darinya sudah sampai d pesantren atau belum. Aku menjadi was-was karena tidak ada yang hadir mewakili aku nanti. Kuputuskan hari ini menemui abah untuk menjadi wali murid di acara kelulusan aku inn. Andai saja bapak bisa ada waktu untuk hadir, mungkin aku tak terlalu mengharap Zainuddin datang.
Sesampainya aku di depan ndalem tiba-tiba pintu terbuka dan Zainuddin didepanku. Berdetak kencang jantungku, kaget bingung, juga senang yang aku rasakan. Aku diam melongo memandang wajah Zainudin yang berwarna sawo matang, kami saling memandang untuk beberapa detik. “ukhti, kok disini? Katanya hari ini mau ambil pengumuman kelulusan sama aku?” potong Zainuddin ditengah keterkejutanku. Tapi aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Kami berjalan menuju MA. Matholiul Ulum sekolahku. Sesampai di sekolah semua mata gadis-gadis tertuju padanya. Bagaimana tidak, Zainuddin memang memiliki wajah yang rupawan sehingga banyak gadis sebayaku tertarik dengannya. Agak sedikit cemburu ketika teman-temanku menanyakan Zainuddin secara detil kepadaku. Tapi apa salahnya sie mereka bertanya begitu padaku? Jika aku berada di posisi mereka aku pasti ikut bertanya tentang Zainuddin.
Setelah acara kelulusan usai, kami langsung kembali ke pesantren. Saat tiba di pembatas wilayah asrama putri dan ndalem kami saling memandang dan tersenyum sebelum berpisah. Setibanya di kamar aku tersenyum bukan karena hasil ujian sekolah aku mendapat nilai terbaik, tapi karena Zainuddin mau meluangkan waktu untuk hadir di acara sepenting ini buatku. Semua memberikan selamat kepadaku. Ditengah kebahagiaanku siang ini. tiba-tiba seorang santri putra datang memanggilku dari halaman paling depan asrama putri “neng, neng Zahra  abah sama ummi pengen ketemu, di tunggu di ndalem” sepontan aku langsung menemui santri tersebut dan berkata “ injih kang, makasih saya kesana nanti”. Santri putra itupun tersenyum dan pergi.
Kutemui abah di ndalem dan abah berkata padaku “ra, selamat atas kelulusanmu, kata Zainuddin kamu masuk lulusan terbaik tahun ini”, aku tersenyum menganggukkan kepala di hadapan abah. Tiba-tiba abah menyodorkan handphone nokia hitam dengan tipe jadul seribu seratus kepadaku. Aku tak mengerti maksutnya abah. “ini handphon dari bapakmu atas kelulusanmu hari ini, di dalam handphone ini ada nomer telpon abah dan bapakmu. Setelah ijazahmu sudah di ambil, abah izinkan kamu bertemu dengan bapakmu di jepara”.  kata abah mencoba menjelaskan.
Aku meneteskan air mata aku merasa abah seolah-olah ingin mengusirku, kenapa abah menyuruhku pergi tanpa persyaratan santri yang lain? Bukankah jika santri pulang harus di jemput walinya? Tapi kenapa aku di percaya pulang sendiri? Banyak sekali pertanyaan dihati dan pikiranku saat abah berkata begitu. Ditengah keherananku abah berbicara “inget ra, bagaimanapun ayu itu ibu kamu meski dia ibu tirimu. Hormati ibu dan adik-adikmu seperti hormatmu pada aku, ummi dan Zainuddin.”. Aku hanya mampu menunduk tak berani berkomentar atau berjanji kepada abah. Singkat cerita aku keluar dari ndalem dan melihat brosur sekolah tinggi Universitas Islam Nahdlatul Ulama jepara atau UNISNU dimading pesantren. Aku baca dan kupahami isinya. Disaat itu kuputuskan mendaftarkan diri ke perguruan tinggi ini.
Sehari sebelum aku pergi aku bertemu Zainuddin di sekolah lantai dua, kami memandang pemandangan di pagar pembatas dilantai dua. Pagi ini kami berbincang banyak mengenai sekolah tinggi.  Bagaimana model pendidikannya hingga pribadi mahasiswa. Tidak hanya itu, bahkan dia memberiku banyak sekali nasihat. Dia pribadi yang hebat, daya ingatnya sangat luar biasa, baik, cerdas, sopan, itulah yang membuat aku kagum padanya. Di hari itu Zainuddin menyarankaku masuk fakultas dakwah. Karena menuruntnya fakultas dakwah memiliki banyak potensi untuk di berikan kepada mahasiswanya. Menurunya aku akan lebih baik masuk fakultas dakwah. Zainuddin tau kalau aku ini ingin sekali menjadi jurnalis, sehingga dia menyarankan aku masuk fakultas dakwah prodi Komunikasi Penyiaran Islam.
Keesokan harinya aku bersiap pergi menuju rumah bapak yang berada di jepara kota. Aku berpamitan dengan abah, ummi, Zainudin dan semua santri. Sempat aku meneteskan air mata tapi ini merupakan hari yang penting setelah sepuluh tahun tak bertemu bapak hari ini aku di ijinkan tuhan menemui bapak. Dengan naik bis jurusan pati jepara aku awali bis pertama menuju rumah bapak. Sebelum aku naik bis aku sempatkan menelpon bapak, tapi yang berbicara ibuku, “assalamualaikum” sapaku di telpon, “waalaikum salam” jawab ibu singkat” dengan takut dan rasa gugup aku memberi tau ibu bahwa hari ini aku mau pulang ke rumahnya. Tetapi ibu hanya menjawab “iya”. Lalu ada bunyi “tut tut tut” ibuku ternyata memutus telponnya. Aku memasukkan kembali handphonku ke ransel dan menunggu bis, beberapa menit kemudian bis pati jepara berhenti di depanku, aku naik dengan membawa koper besar dan ransel. Sekitar empat puluh lima menit  aku naik bis. Dari jendela aku melihat bapak berada di depan rumah makan Maribu tepat di depan taman kerang desa pengkol jepara. Bapak sedang berbincang dengan orang asing perawakannya tinggi besar, putih, dan berambut pirang agak putih, mungki orang luar negri. Tanpa pikirr panjang aku meminta pak supir berhenti. Aku turun dan lari menuju bapak rasanya sangat dekat aku dngan tubuhnya. Kupeluk badan bapak dari belakang sambil menangis aku berkata pada bapak “ bapak, ini kak Zahra, Zahra kangen bapak” hening seketika itu bahkan orang asing yang bersama bapak ikut diam dan memandang kemesraan kami.
Bapak memegang tanganku yang melingkar diperutnya, melepas tanganku dan berbalik. Memandangiku yang sedang menangis. Bapak tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “kak Zahra sudah besar dan cantik, bapak juga kangen sama Zahra” ucap Bapak kepadaku. Bapak memelukku di hadapan umum. Memperkenalkan aku dengan orang asing yg bersamanya. Ternyataa lelaki itu rekan bisnis mebel bapak dari inggris. Aku diajaknya pulang kerumah dengan mobil honda jazz warna merah maroon yang aku lihat sesaat sebelum bertemu abah beberapa minggu lalu.
Di rumah aku bertemu tante Ayu ibu tiriku, aku tersenyum tapi ibuku tidak membalas senyumanku. Nampak begitu tak sukanya dia atas kehadiranku di rumah bapak. Sesampainya di dalam rumah bapak begitu mengistimewakan aku kita bercerita banyak tanpa kehadiran ibu tiriku. Aku dikenalkan adik- adik tiriku yang berjumlah tiga orang ada ahmad yang berumur sembilan tahun, ada wulan yang berumur tujuh tahun dan adikku yang paling kecil yang berumur enam bulan haidar nama adikku yang paling kecil. Bahagia rasanya bisa hadir di keluargaku yang sudah lama hilang. Sepuluh tahun yang lalu terbayar sehari dengan kebersamaan bapak, aku dan adik-adikku.
Adzan maghrib berkumandang di hari pertamaku dijepara, aku berwudlu dan mengenakan mukena terbaikku sore ini. Kuberjalan menuju ruang kecil di dalam rumah yang dipakai untuk solat berjamaah. Nampak ada bapak menungguku dan tersenyum. Bapakku menjadi imam solatku sore ini.  Ingin aku menangis saat bapak membacakan iqomat menandakan bahwa bapak, aku, ibu dan adik-adikku siap melakukan jamaah. Setelah selesai solat kucium tangan bapak dan ibu, begitu juga yang dilakukan adik-adiku. Selesai membaca doa sesuai solat bapak beranjak pergi tapi aku memegangi sarungnya “bapak, Zahra udah hafal tiga puluh jus al-quran, Zahra ingin di semak (mendengarkan dan mengoreksi bacaan al-quran yg dibaca) sama bapak boleh?” pintaku kepada bapak. Bapak tersenyum dan kembali duduk. Aku memulai dengan membaca surat al-fatihah sebagai pembuka ngajiku sore ini bersama bapak sebelum lanjut  surat al-baqoroh hingga isyak.
Sehabis solat isyak aku berbincang dengan bapak di kamrku, aku menyodorkan brosur pendaftaran UNISNU yang aku ambil dari mading pesantren abah afif kemarin. Ku utarakan niatku ingin masuk fakultas dakwah di Unisnu jepara. Tapi bapak mencoba meyakinkan diriku dengan memberi alternative perguruan tinggi di semarang, kudus, jogja dan jakarta. Menurut bapak semua perguruan tinggi di sana jauh lebih baik dari Unisnu. Tapi dengan halus aku memberi pengertian kepada bapak, sukses bukan dari mana orang itu bersekolah tapi dari keinginan diri orang itu sendiri, sekolah hanyalah penunjang dan formalitas untuk mendapatkan ijazah semata. Tetapi aku meyakinkan bapak kalau aku akan sukses di UNISNU karena aku ingin sukses atas diriku bukan karena sekolahku. Aku juga memberikan alasanku kenapa aku ingin masuk fakultas dakwah yang dianggap sebelah mata semua orang termasuk bapakku. Meski awalnya bapak tidak terlalu yakin atas pilihanku, akhirnya bapak merestui dan mau mengantar aku mendaftar keesokan paginya.
Perbincangan semalam membuat Aku tertidur dipelukan bapak malam ini, seperti anak kecil yang selalu ingin dimanja bapaknya. Menjelang pagi aku bersiap ditemani bapak untuk mendaftar di kampus Unisnu jepara. Kampus unisnu dekat dari rumah bapak. ya, jaraknya sama seperti rumahku yang lama dengan pesantren milik abah. Dengan cat has warna hijau . Meski tak sebesar kampus-kampus diluar kota tapi aku merasa masa depanku berada di sini. Seusai mendaftar aku dan bapak pulang. Sesampai di rumah ada abah, ummi, Zainuddin dan ibu berbincang-bincang di ruang tamu. Melihat mereka aku tersenyum kuhampiri ummi dan ibu dan kucium tangan mereka sebagai tanda hormatku.
Aku berjalan ke kamar tak ingin mengganggu, aku berjalan sambil tersenyum memandang Zainuddin yang begitu tampan dengan baju koko, sarung dan peci khas anak santri. Sungguh dia begitu rupawan menurutku. Saat mereka hendak pulang, bapak memanggilku. Aku datang kedepan ternyata sore ini Zainuddin berpamitan untuk kembali ke Kairo untuk melanjutkan studynya. Saat bapak dan ibu mengantar abah dan ummi kedepan. Zainuddin berjalan pelan di belakang bersamaku “ukhty sore ini aku akan kembali ke kairo. Akhi kesini ingin bertemu ukhti dan berpamitan. Nanti seperti biasa ya seminggu sekali kita berkirim surat” dengan tersenyum Zainuddin berpesan seperti itu. Aku tersenyum dan mengangguk. Kami berpisah hari ini, terpisah jarak yang begitu jauh. Tapi tak apalah demi masa depan kami relakan semua ini.
Setelah kepergian Zainuddin ke kairo ku mulai hidupku yang baru di sebuah perguruan tinggi terbesar di jepara yakni Unisnu. Ku awali dengan pertemuan para mahasiswa baru di fakultas dakwah, OSPEK dan beberapa kegiatan yang dilakukan mahasiswa pada umumnya. Semenjak menjadi mahasiswa fakultas dakwah aku dan mahasiswa lain di ajarkan menjadi mahasiswa yang cakap berkomunikasi dengan cara santun. Menjadi jurnalis atas dasar dakwah yang selalu mengajak pada hal yang baik. Menjadi bagian dari media massa baik cetak atau elektronik yang berbasis keislaman dengan tujuan berdakwah. Selain megikuti kuliah, banyak organisasi di bidang komunikasi seperti pers, kemudian radio kampus, teater, film, Semua berada di fakultas dakwah.
 Banyak hal baru yang kutemukan disini selain dari pendidikannya aku juga menjadi tak canggung berbincang dengan ibu tiriku, meski ibuku belum begitu mau menerima tapi aku mencoba mengambil hatinya. Meski dia hanya ibu tiri, dia istri darI bapakku berarti dia juga ibuku. Hubunganku dengan bapak juga adik-adikku berjalan sangat harmonis seperti yang selalu aku bayangkan waktu di pesantren. aku merasa menjadi sosok yang sempurna, memiliki bapak yang sukses di dunia mebel, punya ibu yang cantik dan sedikit cuek, adik-adik yang lucu dan ramah. Selalu kuucapkan terima kasih pada tuhan atas kebahagiaan yang diberikan-Nya unttukku.
Sebenarnya dulu uaku dan ibuku begit tidak baik. Mungkin karena status diriku yang hanya anak tiri. Ibuku tak pernah berbicara padaku dari setelah menikah dan aku kembali dari pesantren. Aku juga menginginkan dipeluk tubuhnya yang indah, di kecup di kening seperti adik-adikku yang lain. Aku selalu berusaha bangun lebih pagi dari ibu agar aku bs membantu ibu memasak, bersih-bersih rumah dan sebagainya. Tetapi ibu tetap saja diam, menegur saja tidak. Suatu ketika ibu hamil lagi dan saat janin di perutnya berumur empat bulan ibu terjatuh dari tangga saat mempersiapkan acara mapati. Mapati di jepara merupakan tradisi pemberian doa untuk janin yang berumur empat bulan. Kejadian itu membuat ibu kehilangan calon adikku. Akibat kejadian itu, ibu harus dirawat d rumah sakit. Selama ibu di rumah sakit aku menemaninya. Aku mencoba bercerita banyak tapi ibu hanya tersenyum sbntar setiap kali aku bercerita. Tiga hari di rumah sakit akhirnya ibu diijinkan pulang. Setiba di rumah ibu memanggil aku yang saat itu sedang membereskan tempat tidurnya. “ ra, makasih ya sudah mau mengurus ibu, mau kah Zahra tetap disini sampai sore bercerita lagi seperti saat ibu di rumah sakit kemarin?” subhanallah betapa senangnya hatiku saat ibu berkata begiitu, aku tersenyum dan mengangguk. Ibu kemudian memelukku sangat hangat. Sama seperti apa yang aku inginkan. Setelah itu hubungan kami begitu baik dan dekat. Aku bersyukur pada allah dan slalu mendoakannya layaknya ibu kandungku sendiri.
Aku dan Zainuddin masih berhubungan sangat baik, Zainuddin sudah lulus dari Al-Azhar, sekarang dia melanjutkan perjuangan abah mengelola pesantrennya. Meski begitu Zainuddin juga sebagai penulis konsultan agama disalah satu koran di jepara, guru di madrasah, Zainuddin juga menjadi ustad di Banjar Agung karena status dia sebagai putra ulama dan lulusan Al-Azhar. Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Dan besok lusa aku akan diwisuda, tak sabar menunggu acara itu. Akhirnya acara itu tiba aku lulus dengan nilai terbaik. Dengan kelulusan ini namaku berganti yakni menjadi Alvi Zahra Al- Alvia S.Kom.i. Pelukan bangga dan kecupan bahagia diberikan bapak dan ibuku untukku. Disaat itulah aku merasa sudah membuat ibuku bangga. Tidak hanya itu setelah lulus banyak tawaran dari beberapa perusahaan  untukku seperti menjadi humas, reporter di media televisi, wartawan, guru, penyiar radio dan anggota di kementrian agama di jepara. Tapi pilihanku aku menjadi reporter di televisi bagiku saat itu menjadi reporter merupakan sebuah profesi yang luar biasa menyebarkan informasi ke jutaan orang di indonesia bahkan luar negri tentulah berbasis dakwah. Tidak memprovokasi tapi lebih mengajak kepada hal yang baik.
Kebahagiaanku tidak berhenti di situ, Zainuddin melamarku. Sungguh hal yang tidak kuduga bisa dilamar orang hebat seperti dia. Meski awalnya ibuku tidak suka karena dia hanya pengasuh pesantren dan penulis tapi akhirnya diterima dengan syarat aku di ijinkan menikmati dunia kerjaku setidaknya satu sampai dua tahun. Barulah kami boleh menikah, mendengar itu dari kamar, aku melakukan sujud syukur atas restu itu.
Perjalan panjang ku tempuh dari jepara ke jakarta untuk melakukan tugasku sebagai reporter lulusan Unisnu. Kujalani dan kunikmati pekerjaanku, banyak yang mengenalku karena wajahku sering muncul di tivi. Seain itu aku mengenal banyak orang dai beberapa daerah, pejabat juga artis. Aku sukses menjalankan misiku sebagai da’i di media tivi. Dua tahun aku dijakarta, akhirnya aku memutuskan pulang bertemu keluargaku dan menepati janji keluargaku untuk menikahkan aku dengan Zainuddin. Saat aku pulaang semua persiapan pernikahan sudah di rancang dan di konsep ibuku. Dalam proses persiapan pernikahan, aku menyepatkan datang ke pemakaman ibuku yang ada di Banjar Agung bersama bapak dan ibu untuk meminta ijjin sekaligus mendoakannya. Sekarang aku merasa ibuku tidak pernah mati. Karena tante ayu sekarang mampu menjadi ibu yang selama ini mengaji di rumah Azza wa Jalla. Setelah semua persiapan pernikahan sudah siap dan tanggal pernikahan sudah jatuh tempo akhirnya berlangsung juga  ijab qobul antara Zainuddin, bapak, abah dan penghulu. Jantungku berdegup kencang takut terjadi kegagalan. Dan alhamdulilah semua berjalan lancar. Aku dan Zainuddinpun resmi menjadi sepasang suami istri. air mata ini menetes di acara pernikahan. Karena tuhanku mengijinkan aku menjadi tulang rusuk dari Zainuddin, memiliki ibu tiri yang mulai menerimaku. Adik-adik yang baik. Dan bapak yang akhirnya bisa hadir kembali di hidupku setelah sepuluh tahun tak beertemu. Sungguh inilah kesempurnaan yang aku dapatkan dari tuhanku ALLAH.


NAMA            : ALFIATURROHMAH (mahasiswa fakultas DAKWAH.             UNISNU Jepara
ALAMAT       : Banjar Agung  RT 05/02 Bangsri-Jepara
NO.REC         : 589901015031531 .BANK BRI. AN; ALFIATURROHMAH
NO.TLP          : 081575991413


No comments:

Post a Comment